Beranda Peristiwa Ini Dia Kisah Marbot Yang Kini Jadi Profesor

Ini Dia Kisah Marbot Yang Kini Jadi Profesor

50
0

Berawal pada tahun 1998 Khairudin berangkat ke Jogja untuk menjadi mahasiswa baru di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) mengambil jurusan elektro. Kehidupannya yang tidak berkecukupan membuatnya hidup prihatin, selama kuliah dirinya tinggal dan mengurus masjid Al Amin dengan menjadi marbot dan jualan tempe.

Setiap pagi setelah subuh, dia kayuh sepeda bututnya, mengambil tempe Mochlar dan mengantar ke langganannya.
Setelah itu, kembali ke masjid untuk membersihkan masjid, kemudian mengayuh sepedanya ke kampus yang jaraknya sekitar 5 km. Kadang malam hari selepas isya dia mengantar tempe ke langganannya yang lain.

Tak jarang dia pulang ke masjid di sela-sela jam kuliahnya untuk melantunkan adzan dhuhur atau ashar. Kemudian balik lagi ke kampus untuk meneruskan kuliahnya.

Sepulang kuliah, dia mengajar anak-anak mengaji di TPA masjid. Berpuluh anak belajar alif ba ta darinya. Tepuk anak sholeh dan lagu anak TPA pun diajarkannya.

Setiap malam kamis, pengajian rutin disiapkannya. Sebagai marbot masjid, dia mengangkat minuman dan snack, membagikan ke jamaah ¥ang hadir mengaji. Setelahnya, dia merapikan lagi tikar gelaran tadi, menyapu dan mengepelnya.

Alhamdulillah, Udin, begitu kami memanggilnya, lulus dengan cumlaude. Meneruskan sekolah S2 di Institut Teknologi 10 November Surabaya (ITS), dan kemudian menikah. Setelah menikah, dia tidak lagi tinggal di kampung kami. Menurut kabar dia tinggal di daerah Bantul.

Selang berapa tahun, dia kembali. Dia membeli rumah di kampung kami, dekat dengan masjid yang dulu dia rawat. Kali ini, dia sudah menjadi dosen di UNY dan sudah bergelar PhD. Sudah memiliki anak 3 orang.

Bertahun berlalu, Udin yang dulu mengayuh sepeda butut, sekarang sudah mengendarai mobil. Sesekali sepeda dikayuhnya untuk berolah raga. Tak lama lagi, dia akan menjadi Profesor. Profesor Khairudin, di usia yang sangat muda.
.
Barakallah Prof Khairudin. Maafkan kami, tak bisa mengubah panggilan itu, Udin. Meskipun sudah Profesor, engkau tetaplah Udin, yang bagai anak bagi mama dan bapak, adik, kakak, bagi keluarga kami.
Dan menjadi teladan bagi kami.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here