Komunitas Sumbu Tengah kembali menggelar “Sumbu Tengah Edisi ke-8” dengan mengangkat tema “Amparan Tatak dalam Obrolan, Workshop Kilat, dan Mukbang Pangan, Kuliner, Sejarah Lokal, Warisan Budaya Nasional.” Wakil Wali Kota (Wawali) Samarinda, H. Saefuddin Zuhri, S.E., M.M., turut hadir dalam kegiatan yang berlangsung di Ruang Mancong, Lantai 2 Hotel Mesra Samarinda, Selasa (18/11/2025).
Founder Komunitas Sumbu Tengah, Rusdi, menjelaskan bahwa komunitas literasi ini dibangun untuk meningkatkan kualitas literasi masyarakat melalui forum diskusi publik. Gagasannya berangkat dari percakapan sederhana di ruang privat—seperti chat, warung kopi, kantin sekolah hingga perpustakaan—yang kemudian diangkat menjadi dialog publik yang lebih luas dan bermakna. Masuknya Sumbu Tengah pada edisi kedelapan ia sebut sebagai anugerah, karena tetap dipercaya sebagai ruang bagi munculnya gagasan besar dari obrolan kecil.
Rusdi menambahkan, kegiatan bertema kuliner ini merupakan tindak lanjut dari penetapan Amparan Tatak sebagai Warisan Budaya Tak Benda. Berdasarkan paparan penulis naskah, Muhammad Sarif, kepada Wawali Samarinda, kegiatan ini mendapat dukungan penuh mengingat masih minimnya pengetahuan masyarakat mengenai kuliner khas daerah. Peserta diajak untuk mengenal, mencicipi, dan mempelajari langsung pembuatan Amparan Tatak dari maestro yang telah menekuni kuliner ini selama lebih dari 50 tahun—sebagai upaya memperkuat identitas kuliner Samarinda.

Wawali Saefuddin Zuhri mengapresiasi penyelenggaraan kegiatan ini, sekaligus menyampaikan terima kasih kepada Hotel Mesra Internasional yang memfasilitasi tempat secara gratis.
Ia menegaskan pentingnya pelisensian Amparan Tatak sebagai kuliner khas Samarinda agar tidak diklaim pihak luar, mengingat letak geografis Kalimantan yang dekat dengan negara tetangga dan pernah terjadi kasus pengambilalihan produk serupa.
Menurut Wawali, Amparan Tatak—berbahan dasar pisang, tepung, dan proses olahan tradisional—merupakan warisan yang harus dijaga. Ia mendorong pelaku kuliner dan komunitas untuk berkolaborasi, termasuk bersama Komunitas Sumbu Tengah, guna menjaga keaslian dan memperkuat pelestariannya.
Ia menilai potensi Amparan Tatak sangat besar karena Samarinda merupakan kota transit yang ramai dilalui masyarakat dari Balikpapan menuju Kutai Kartanegara dan daerah lainnya.
Aktivitas warga yang padat pada akhir pekan, serta keramaian pusat-pusat publik seperti Citra Niaga, menjadi peluang untuk memperluas eksposur kuliner lokal.
Wawali juga mengimbau agar Amparan Tatak terus diproduksi tanpa bahan kimia serta didorong pengembangan varian kreatif agar lebih diminati masyarakat luas. Upaya ini diharapkan dapat memperkuat posisinya sebagai identitas kuliner khas Samarinda.

Saefuddin menekankan pentingnya membangun identitas dan branding Amparan Tatak melalui kolaborasi berbagai pihak. Ia menyoroti perlunya penyediaan ruang kuliner representatif agar makanan ini tidak hanya muncul pada momen tertentu seperti Ramadan atau hari-hari besar.
“Pemerintah Kota Samarinda memastikan dukungan terhadap pelestarian kuliner lokal, tidak hanya Amparan Tatak tetapi juga lemang, amplang, dan makanan khas lainnya,” ujar Wawali.
Ia mengapresiasi Komunitas Sumbu Tengah atas kontribusinya dalam membangkitkan kembali minat masyarakat terhadap kuliner tradisional.
“Pemkot mendorong kerja sama antara pemerintah, pelaku kreatif, dan komunitas untuk mengembangkan kuliner sebagai peluang ekonomi yang bermanfaat bagi masyarakat. Ke depan, Dinas Pariwisata dan para kreator akan dilibatkan agar pelestarian dan promosi kuliner daerah semakin terarah dan berkelanjutan,” pungkasnya. /// (maf/afd)







