Oleh: Widodo Brontowiyono*
Banyak orang mengira belajar Al-Qur’an adalah urusan masa kecil. Ketika usia sudah lanjut, sebagian merasa semuanya sudah lewat. Padahal, justru di usia senja itulah seseorang sering mulai jujur pada dirinya sendiri: ada kewajiban yang belum sungguh-sungguh ditunaikan.
Saya merasakannya sendiri. Sekitar usia 64 tahun, saya memutuskan mulai belajar tahsin Al-Qur’an secara lebih serius. Kini usia saya hampir 68 tahun. Keputusan itu bukan karena baru mengenal Islam, tetapi karena sadar bahwa selama ini bacaan saya masih sangat jauh dari pantas. Malu rasanya, tapi sulit utk mulai belajar. Huruf hijaiyah sering tertukar, belum tahu apa itu makhraj. Apalagi sifat huruf, belum mengenal sama sekali. Sebuah kelalaian panjang yang akhirnya diakui.
Dengan segala keterbatasan usia, saya mengikuti kelas tahsin daring di Katana (Kelas Tahsin An Najm). Duduk kembali sebagai murid, menerima koreksi dari ustadz yang jauh lebih muda, ternyata bukan perkara ringan. Ada ego yang harus ditundukkan, ada rasa malu yang harus dikalahkan.
Tantangannya bertambah karena hingga hari ini saya masih berstatus aktif bekerja. Belajar mengaji harus dibagi dengan tugas-tugas pekerjaan, rapat, target, dan tanggung jawab lain yang tidak sedikit. Tidak jarang kelas diikuti dalam kondisi lelah, atau latihan dilakukan di sela-sela waktu yang sempit. Niat baik pun ternyata tetap menuntut manajemen waktu dan kesungguhan.
Di usia senja, kondisi kesehatan juga tidak selalu bersahabat. Daya fokus lebih cepat turun, tenggorokan kadang kering, napas tidak sepanjang dulu, pendengaran pun tak selalu prima. Ada hari-hari ketika badan terasa tidak enak, tetapi kelas tahsin tetap berjalan. Di titik inilah saya belajar menerima diri apa adanya. Belajar mengaji di usia lanjut memang bukan soal kecepatan, melainkan kesabaran. Inilah seninya.
Prosesnya sungguh tidak mudah. Lidah terasa kaku. Kesalahan yang sama berulang. Sering kali rasa putus asa datang lebih cepat daripada paham. Saya bahkan harus mengulang satu level sampai lima (5) kali. Dua kali tadarus, tiga kali teori. Pernah terlintas keinginan untuk berhenti. “Mungkin memang tidak mampu,” begitu bisikan yang muncul.
Yang membuat saya bertahan adalah para guru. Bukan hanya karena keilmuan mereka, tetapi karena kesabaran dan empatinya. Salah satu yang sangat membekas adalah Ustadz Ririd. Beliau tidak hanya mengoreksi bacaan, tetapi juga menjaga semangat.
Ada satu nasihat beliau yang terus terngiang: “Semoga ikhtiar belajar Al-Qur’an ini kelak menjadi cahaya saat kita masuk alam kubur yang gelap. Di sana, tidak ada yang menemani kecuali amal. Dan Al-Qur’an adalah sebaik-baik teman.”
Kalimat itu sederhana, tetapi menghunjam. Ia mengingatkan bahwa pada akhirnya manusia akan sendirian. Harta, jabatan, bahkan keluarga akan berjarak. Dalam banyak hadis disebutkan Al-Qur’an akan memberi syafaat bagi pembacanya, menjadi pembela dan penerang. Sejak itu, saya memandang kesalahan bukan lagi sebagai aib, dan pengulangan bukan lagi sebagai kegagalan, melainkan bagian dari ikhtiar.
Pengalaman ini mengajarkan satu hal sederhana: dalam belajar Al-Qur’an, ketekunan dan kesabaran adalah kunci utamanya. Belajar pelan-pelan, di sela kesibukan, di tengah keterbatasan fisik, dengan hati yang terus dilatih ikhlas.
Tulisan ini bukan untuk menggurui siapa pun. Hanya sebuah pengakuan kecil bahwa belajar Al-Qur’an memang tidak pernah mengenal usia. Mumpung masih ada napas, bagi yang blm mulai belajar, mari kita menikmati anugerah hidup ini dengan belajar membaca Al Quran.
Dan mudah-mudahan, kelak, di saat semua cahaya dunia benar-benar padam, huruf-huruf yang kita lafalkan – walau dengan terbata-bata – akan datang lebih dulu—sebagai teman, pembela, dan cahaya di alam kubur.
*) Penulis adalah salah satu santri lansia di Katana



