Di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern, ketika waktu terasa semakin sempit dan tanggung jawab semakin padat, ada satu perjalanan sunyi yang justru menghadirkan ketenangan: kembali belajar Al-Qur’an. Itulah yang dirasakan Alam DH, Ketua dari salah satu Klas KATANA, saat memutuskan duduk kembali sebagai murid tahsin pada usia 41 tahun.
Baginya, pengalaman ini bukan sekadar memperbaiki bacaan, tetapi perjalanan menemukan kembali makna menjadi orang tua yang saleh. Di sela pekerjaan kantor dan kesibukan mengurus tiga anak kecil berusia tujuh, lima, dan tiga tahun, ia menyadari bahwa warisan terbaik bagi keluarga bukanlah harta, melainkan teladan kesungguhan dalam belajar agama.
“Saya dulu merasa bacaan sudah cukup,” tuturnya lirih. “Namun ketika duduk kembali di kelas dan melihat semangat para lansia yang tak lelah memperbaiki diri, hati saya tersentuh. Ternyata masih banyak makhraj yang belum tepat, tajwid yang terlewat, dan kesombongan halus yang selama ini tidak saya sadari.”
Rasa malu sempat datang, terutama ketika harus mengulang materi yang sama berkali-kali di hadapan ustadz. Tetapi justru di sanalah ia merasakan rahmat proses. Setiap kesalahan yang diperbaiki seperti mengikis lapisan ego yang selama ini tak terlihat. Belajar tahsin menjadi perjalanan merendahkan diri di hadapan Kalam Allah.
Tantangan terbesar bukan hanya pada teknis bacaan, melainkan pada perjuangan menjaga fokus. Di rumah, suara tangisan dan tawa anak-anak sering kali menyertai latihan makhraj dan sifat huruf. Tugas tahsin harus diselesaikan di tengah “perebutan waktu” antara kewajiban domestik dan tuntutan pekerjaan. Namun, di balik kesibukan itu, Alam menemukan makna baru: belajar Al-Qur’an tidak menunggu sunyi, ia justru tumbuh di tengah riuh kehidupan.
Bimbingan Ustaz Ririd di kelas KATANA menjadi sumber kekuatan bagi para santri. Kesabaran beliau dalam mengoreksi bacaan membuat Alam merasa malu untuk menyerah. Ia menyadari bahwa perjalanan mengaji bukan tentang seberapa cepat naik level, melainkan tentang seberapa istiqamah seseorang bertahan dalam proses perbaikan.
Harapan terbesar Alam sederhana namun dalam: agar anak-anaknya melihat bahwa orang tua pun tidak pernah berhenti belajar. Ia ingin mereka memahami bahwa Al-Qur’an bukan hanya kitab yang dibaca saat kecil, tetapi sahabat sejati yang akan menerangi langkah manusia hingga akhir hayat.
Dalam kelas yang sama, Widodo Brontowiyono juga merasakan makna spiritual yang serupa. Ia menyampaikan bahwa kemampuan membaca Al-Qur’an sesungguhnya melibatkan seluruh diri manusia—mata yang melihat huruf, telinga yang mendengar lantunan, otak yang memahami makna, hati yang merasakan getarannya, serta lidah dan bibir yang melafalkan dengan penuh adab. Semua unsur itu harus dilatih terus-menerus, tanpa bisa diwakilkan kepada siapa pun.
“Belajar tahsin bukan hanya memperbaiki suara,” ujarnya, “tetapi juga proses memangkas kesombongan. Ada orang yang merasa sudah mahir tilawah, namun ketika diuji kembali, ternyata tajwidnya belum sesuai kaidah. Di titik itu, kita harus berani membongkar ulang bacaan, memperbaiki makhraj, sifat huruf, dan hukum tajwid dengan hati yang lapang.”
Kisah para santri KATANA ini menjadi pengingat bahwa perjalanan menuju Al-Qur’an adalah perjalanan kembali kepada diri sendiri. Ia mengajarkan kesabaran saat mengulang huruf demi huruf, mengajarkan keikhlasan ketika kesalahan diperbaiki, dan mengajarkan kerendahan hati di hadapan ilmu Allah yang tak pernah habis.
Di dunia yang sering mengukur keberhasilan dari gelar dan pencapaian, keberanian untuk kembali menjadi murid justru menjadi tanda kematangan jiwa. Sebab pada akhirnya, Al-Qur’an tidak hanya memperbaiki bacaan, tetapi juga menata hati—menjadikan manusia lebih lembut, lebih sadar, dan lebih dekat kepada Tuhannya.
Belajar Al-Qur’an, seperti yang dirasakan Alam DH dan para santri KATANA, bukanlah perjalanan yang selesai dalam satu kelas. Ia adalah jalan panjang menuju cahaya, langkah demi langkah, huruf demi huruf—hingga kelak menjadi penerang di dunia dan penuntun di akhirat.





