BnR News, Jakarta,- Menjelang penentuan awal ramadhan, terutama tahun 2026, perbedaan metode menjadi tema bahasan yang tak kunjung henti. Ada yang menarika berkenaan, pemikiran tentang Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT). KHGT merupakan sebuah sistem penanggalan hijriah modern yang dikembangkan oleh Muhammadiyah sebagai upaya menghadirkan kalender Islam yang bersifat seragam, ilmiah, dan berlaku global. Sistem ini disusun menggunakan metode hisab hakiki kontemporer, yaitu pendekatan astronomi presisi yang memungkinkan penetapan awal bulan dilakukan secara akurat dan konsisten di seluruh dunia. Dalam sistem KHGT, permukaan bumi dipandang sebagai satu kesatuan wilayah waktu untuk pengamatan bulan, sehingga penentuan awal bulan baru tidak lagi bergantung pada rukyat lokal, tetapi dihitung berdasarkan parameter astronomis global. Pendekatan ini ditegaskan pada laman resmi KHGT yang menjelaskan bahwa kalender ini dirancang agar dapat digunakan secara serentak oleh umat Islam di berbagai negara.
Peluncuran KHGT merupakan langkah besar dalam sejarah penanggalan Islam modern. Inisiatif ini mengatasi persoalan klasik perbedaan awal bulan—seperti Ramadan, Syawal, atau Dzulhijjah—yang selama ini sering berbeda antara satu negara dan negara lain. Dengan sistem kalender global, umat Islam dari Jakarta hingga New York dapat memulai ibadah pada hari yang sama. Hal ini juga ditegaskan dalam laporan ANTARA News yang menyebutkan bahwa KHGT hadir untuk menyatukan hari besar Hijriah secara universal melalui basis hisab astronomis global.
Pengembangan KHGT merupakan hasil perjalanan panjang Muhammadiyah dalam penguatan ilmu falak. Keputusan penerapannya telah dimatangkan dalam Musyawarah Nasional Tarjih ke-32 dan mengadopsi prinsip yang sebelumnya dibahas dalam Muktamar Turki 2016, yang menekankan perlunya kalender Islam global yang bersifat unifikatif, ilmiah, dan sesuai syariat. Penjelasan tersebut disampaikan oleh Majelis Tarjih dan Tajdid yang menegaskan bahwa KHGT lahir sebagai “utang peradaban” umat Islam untuk memiliki sistem kalender yang seragam setelah lebih dari 14 abad menggunakan metode yang berbeda-beda antarwilayah.
KHGT dibangun di atas tiga prinsip utama. Pertama, keseragaman hari dan tanggal di seluruh dunia untuk memulai bulan baru. Kedua, penggunaan hisab astronomis presisi sehingga waktu dapat dihitung jauh hari sebelumnya dan digunakan sebagai rujukan global. Ketiga, kesatuan matlak, yaitu pandangan bahwa bumi merupakan satu zona pengamatan hilal sehingga awal bulan hijriah bersifat simultan bagi seluruh umat Islam. Prinsip-prinsip ini memastikan bahwa setiap bulan Hijriah tetap mengikuti kaidah kamariah, yaitu jumlah hari yang tidak kurang dari 29 dan tidak lebih dari 30.
Selain memberikan kepastian waktu, KHGT juga menghadirkan berbagai fitur pendukung seperti integrasi kalender masehi, jadwal salat, peta visibilitas hilal, serta tabel pemindaian astronomis. Semua fitur tersebut tersedia secara terbuka melalui situs resmi KHGT dan dapat diakses oleh masyarakat luas. Laman tersebut menegaskan bahwa sistem ini merupakan inovasi penanggalan islam yang terstandar, modern, dan mudah digunakan.
Dengan diberlakukannya KHGT, Muhammadiyah berharap dapat memberikan kontribusi nyata bagi persatuan umat Islam secara global. KHGT bukan sekadar penanda waktu, tetapi juga wujud komitmen untuk menghadirkan sistem kalender yang akurat, ilmiah, dan mempersatukan umat di tengah dunia yang semakin terhubung. (ISW)





