Catatan Apresiasi: Widodo Brontowiyono, Guru Besar Teknik Lingkungan UII
Tidak semua capaian akademik lahir dari kebetulan. Sebagian justru merupakan buah dari rencana panjang, disiplin, dan doa yang konsisten. Itulah kisah di balik pengukuhan Prof. Ir. Eko Siswoyo, S.T., M.Sc.ES., Ph.D., IPU. sebagai Guru Besar Bidang Rekayasa Pengolahan Air dan Limbah Universitas Islam Indonesia (UII), Selasa (16/12/2025).
Kisah itu bermula lebih dari satu dekade lalu, tepatnya pada tahun 2014, ketika Pak Eko menuntaskan studi doktoralnya di Hokkaido University, Jepang. Seusai sidang doktor, salah seorang profesornya bertanya sederhana namun menentukan: “Apa rencanamu sepuluh tahun ke depan?” Dengan tenang, Pak Eko menjawab, “Insya Allah, dalam sepuluh tahun saya ingin meraih jabatan guru besar penuh.”
Waktu berjalan. Target itu tidak diumumkan ke publik, tidak pula dijadikan slogan. Ia memilih bekerja dalam senyap—meneliti, menulis, mengajar, dan membangun jejaring akademik. Alhamdulillah, rencana itu kini terkabul. Pengukuhan Guru Besar UII diselenggarkan hari ini menjadi bukti bahwa visi yang jelas, kerja konsisten, dan doa yang tidak putus dapat berjalan beriringan.
Dalam pidato pengukuhannya berjudul “Inovasi Pengolahan Air dan Limbah Berkelanjutan Menggunakan Adsorben Ramah Lingkungan”, Prof. Eko menegaskan bahwa air adalah inti kehidupan dan fondasi peradaban. Krisis air bersih, pencemaran logam berat, serta degradasi lingkungan bukan semata persoalan teknis, melainkan cerminan relasi manusia dengan alam. Melalui risetnya, ia mengembangkan teknologi adsorpsi berbasis material ramah lingkungan yang murah, efisien, dan aplikatif—solusi yang relevan bagi Indonesia dan negara berkembang.
Pidato tersebut tidak hanya menampilkan kedalaman ilmiah, tetapi juga refleksi filosofis dan religius. Prof. Eko mengingatkan bahwa kerusakan lingkungan, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an, bersumber dari perbuatan manusia sendiri. Karena itu, sains harus diarahkan untuk menghadirkan kemaslahatan, bukan sekadar efisiensi ekonomi. Bagi Prof. Eko, riset adalah amanah dan bentuk ibadah.
Capaian Prof. Eko, ini sepenuhnya pantas. Penulis bersaksi bahwa Prof. Eko sebagai sosok yang sangat produktif dalam publikasi ilmiah internasional bereputasi, dengan riset yang kuat dan berkelanjutan. Jaringan internasional Prof Eko begitu luas, dan yang lebih penting, berdampak nyata bagi pengembangan keilmuan Teknik Lingkungan di Indonesia.
Selain sebagai akademisi, Prof. Eko saat ini juga dipercaya sebagai Ketua Badan Kerja Sama Perguruan Penyelenggara Pendidikan Tinggi Teknik Lingkungan (Bakerma TL) Indonesia. Peran ini menempatkannya sebagai penghubung strategis antarprogram studi Teknik Lingkungan se-Indonesia, mendorong kolaborasi, penyelarasan kurikulum, dan peningkatan mutu pendidikan nasional.
Di lingkungan kampus, Prof. Eko dikenal sebagai pendidik yang disiplin dan visioner. Ia mendorong mahasiswa untuk terbiasa berbahasa Inggris sebagai bekal global. Bahkan di lingkungan kerja DPPM UII, ia membiasakan komunikasi berbahasa Inggris setiap hari Rabu dan Kamis—sebuah kebiasaan kecil yang mencerminkan konsistensi visi.
Di balik prestasi akademik, Prof. Eko menjalani hidup dengan sederhana. Ibadahnya terjaga—rajin puasa Senin-Kamis, shalat tepat waktu, dan berusaha berjamaah di masjid. Ia juga memegang prinsip hidup yang sering ia sampaikan kepada mahasiswa dan kolega: “Barang siapa membantu mempermudah urusan orang lain, insya Allah urusannya akan dimudahkan oleh Allah.”
Pengukuhan Guru Besar Prof Eko ini bukan hanya tentang gelar, melainkan tentang ketepatan janji pada diri sendiri, kesetiaan pada proses, dan keyakinan bahwa ilmu, iman, dan akhlak dapat berjalan seiring. Sebuah pelajaran berharga bagi generasi akademisi Indonesia.





