Oleh: Widodo Brontowiyono, Dosen Teknik Lingkungan UII
Yogyakarta selalu dikenal sebagai wilayah budaya dan kawasan pelajar. Namun, sebuah data baru mengusik (data yang viral di sosmed): dua dari tiga penduduk DIY merasa kesepian. Angka ini mengejutkan, mengingat citra Jogja sebagai tempat yang hangat dan bersahabat. Kesepian di sini bukan sekadar perasaan individual, melainkan gejala sosial yang harus dipahami serius.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Indeks Pembangunan Manusia (IPM) DIY 2024 mencapai 81,62, salah satu tertinggi di Indonesia. Namun, pada saat bersamaan kemiskinan DIY masih 10,40 persen atau sekitar 430 ribu orang, lebih tinggi dibanding rata-rata nasional (8,57 persen). Paradoks terlihat: kualitas manusia unggul, tetapi sebagian besar warganya tetap merasa terasing.
Lebih jauh, DIY juga dikenal sebagai provinsi dengan proporsi lansia tertinggi (sekitar 16 persen penduduk). Penuaan ini membawa risiko kesepian kronis, terlebih banyak anak muda merantau dan ikatan sosial tradisional makin longgar.
WHO menempatkan kesepian sebagai isu kesehatan publik global. Sekitar 1 dari 6 orang di dunia terdampak. Dampaknya serius: depresi, kecemasan, kualitas tidur menurun, hingga risiko kematian dini. Penelitian bahkan menunjukkan efek kesepian terhadap kesehatan sebanding dengan merokok.
Generasi muda pun tak luput. Survei Kesehatan Pelajar Indonesia (2023) mencatat 3,5 persen remaja tidak memiliki teman dekat. Generasi Z memang hidup di era koneksi digital, tetapi banyak yang mengaku “terhubung tanpa benar-benar dekat”. Ini mengkhawatirkan, karena merekalah tulang punggung bonus demografi 2045.
Ada beberapa simpul penyebab kesepian. Pertama, kerentanan ekonomi: kelompok miskin lebih rentan terhadap isolasi sosial. Kedua, mobilitas urban: di kota pelajar, ikatan sosial sering cepat terbentuk, tetapi mudah pula terputus. Ketiga, digitalisasi: interaksi berpindah ke layar, sementara kehangatan tatap muka kian jarang. Keempat, penuaan: semakin banyak lansia yang hidup sendiri.
Kesepian tidak bisa dianggap enteng. Ia menambah beban kesehatan, mengikis produktivitas, dan melemahkan solidaritas. Ada beberapa langkah yang bisa ditempuh. Pertama, ukur dan pantau kesepian lewat survei resmi, sejajar dengan IPM dan kemiskinan. Kedua, terapkan social prescribing di Puskesmas: merujuk warga berisiko ke kegiatan komunitas seperti pengajian kampung, kegiatan kebun bersama, senam sehat, kelas seni, atau olahraga sesuai minat. Ketiga, kuatkan komunitas kampung kota: ruang tatap muka yang menghubungkan pendatang, mahasiswa, dan warga lokal. Keempat, bangun literasi emosi untuk Gen Z, agar mereka tidak hanya piawai berjejaring digital, tetapi juga terampil berelasi nyata. Kelima, desain kota harus ramah kebersamaan: ruang publik teduh, jalur pejalan kaki, dan titik pertemuan lintas generasi.
Data tentang kesepian di DIY adalah alarm sosial (walau data resmi dari pemerintah sepertinya belum published). Kita boleh bangga dengan IPM tinggi, tetapi tidak bisa menutup mata pada jurang emosional yang melebar. Jika kesepian dibiarkan, bonus demografi 2045 bisa berubah menjadi beban.
Mengobati sepi berarti merawat peradaban: menghadirkan ruang untuk berjumpa, waktu untuk mendengar, dan keberanian untuk saling menyapa. Dari situlah, kawasan ini akan tetap istimewa—bukan hanya karena budayanya, melainkan karena hangatnya manusia didalamnya





