Diabetes merupakan salah satu penyakit kronis yang paling banyak diderita di seluruh dunia. Penyakit ini terjadi ketika kadar gula darah (glukosa) dalam tubuh terlalu tinggi akibat gangguan produksi atau penggunaan insulin. Jika tidak dikendalikan dengan baik, diabetes dapat menimbulkan berbagai komplikasi serius yang mengancam kesehatan bahkan nyawa.
Secara global, pada usia 20–79 tahun, menurut idf.org sekitar 589 juta orang hidup dengan diabetes, setara 11,1 % dari populasi orang dewasa kelompok usia tersebut. Juga menurut gheware.com, ada 252 juta (sekitar 43 %) belum menyadari kondisi mereka, meningkatkan risiko komplikasi serius tanpa deteksi dini. Proyeksi menunjukkan angka penderita akan meningkat menjadi 853 juta pada 2050.
Di Indonesia, orang dengan usia 20–79 tahun, prevalensi sebesar 11,3 %, dengan sekitar 20,4 juta orang hidup dengan diabetes pada 2024. Sebagian besar kasus tak terdiagnosis—sekitar 73,2 %, atau 14,95 juta orang, belum mengetahui kondisi mereka. Proyeksi menunjukkan jumlah penderita meningkat menjadi 28,6 juta pada 2050, Survei Kesehatan Nasional 2023 mencatat prevalensi 11,7 % pada usia 15 tahun ke atas.
Dampak Organ dan Komplikasi
Diabetes menyebabkan kerusakan organ vital, antara lain jantung, ginjal, mata, dan saraf. Kadar gula darah tinggi menimbulkan hiperglikemia kronis yang merusak pembuluh darah di berbagai organ, sehingga memperbesar risiko penyakit jantung koroner, gagal ginjal, dan neuropati. Neuropati bisa menyebabkan mati rasa di kaki, memperlambat penyembuhan luka, dan bahkan memicu amputasi.
Untuk Indonesia yang memiliki 11–12 % prevalensi, artinya jutaan orang berada dalam risiko komplikasi berat jika tidak segera ditangani dengan benar.
Risiko Kebutaan dan Luka Sulit Sembuh
Retinopati diabetik—kerusakan pembuluh darah di retina—merupakan penyebab utama kebutaan pada penderita. Tingginya angka diabetes yang belum terdiagnosis di Indonesia mengindikasikan banyak orang tidak mendapatkan pemeriksaan mata rutin.
Luka bahkan infeksi kecil dapat berkembang menjadi gangren karena sistem vaskuler dan imunitas melemah, akhirnya menyebabkan amputasi.
Komplikasi Akut: Hipoglikemia dan Ketoasidosis
Diabetes juga menimbulkan komplikasi akut seperti hipoglikemia—gula darah rendah—yang dapat menimbulkan pusing, gemetar, dan bahkan hilang kesadaran. Ketoasidosis diabetik adalah kondisi darurat karena tubuh kekurangan insulin dan memecah lemak secara drastis, mengancam nyawa.
Dampak Psikologis
Diabetes memengaruhi kesehatan mental penderitanya. Banyak yang mengalami stres, kecemasan, dan depresi akibat kebutuhan pengelolaan penyakit setiap hari. Tekanan psikologis ini juga bisa memperburuk kontrol gula darah sehingga berdampak buruk pada kesehatan jangka panjang.
Langkah Pengendalian dan Pencegahan
- Skrining Dini
Bagi Indonesia dengan 73,2 % penderita diabetes yang belum terdiagnosis, program skrining di seluruh wilayah sangat penting. Langkah ini bisa mencegah komplikasi serius sebelum muncul. - Pola Hidup Sehat
Mengonsumsi makanan seimbang rendah gula, rutin berolahraga, dan menjaga berat badan ideal dapat menurunkan risiko pre-diabetes berkembang menjadi diabetes tipe 2. - Kontrol Gula Darah
Penderita diabetes harus mengontrol gula darah lewat diet, obat, atau insulin. Kombinasi dengan aktivitas fisik dan pemantauan darah rutin sangat dianjurkan. - Pemeriksaan Rutin
Pemeriksaan rutin mata, ginjal, fungsi jantung, serta pemantauan komplikasi saraf perlu dilakukan untuk mendeteksi gangguan sejak dini.
Diabetes adalah masalah kesehatan serius di dunia dan Indonesia—lebih dari 20 juta orang mengidapnya, dan sebagian besar belum terdiagnosis. Dampak organ, risiko akut, dan dukungan psikologis menjadi tantangan besar. Dengan kesadaran, pemeriksaan dini, dan pengelolaan penyakit yang disiplin, kita bisa mencegah komplikasi dan meningkatkan kualitas hidup.
