Internasional, BnR News. – Dikutip dari www.unhcr.org organisasi Komisioner Tinggi Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Pengungsi /UNHCR melaporkan bahwa hingga 12 Maret 2026, sebanyak 3,2 juta warga sipil di Iran telah kehilangan tempat tinggal akibat gelombang serangan udara yang diluncurkan oleh Amerika Serikat dan Israel. Konflik yang dimulai sejak akhir Februari 2026 ini telah memicu eksodus massal dari pusat-pusat kota menuju wilayah pedesaan.
Menurut pernyataan resmi UNHCR pada Kamis (12/3/2026), diperkirakan antara 600.000 hingga satu juta rumah tangga di Iran kini berstatus sebagai pengungsi internal. Sebagian besar warga dilaporkan melarikan diri dari Teheran dan kota-kota besar lainnya yang menjadi target utama bombardir. Mereka bergerak menuju wilayah utara yang dianggap lebih aman serta daerah-daerah terpencil untuk menghindari serangan rudal.
Ayaki Ito, pejabat senior UNHCR, menyatakan keprihatinan mendalam atas skala krisis ini. “Angka ini kemungkinan besar akan terus meningkat selama permusuhan berlanjut. Ini menandai eskalasi kebutuhan kemanusiaan yang sangat mengkhawatirkan,” ungkapnya. Selain warga lokal, konflik ini juga memperburuk kondisi pengungsi Afghanistan di Iran yang sebelumnya sudah hidup dalam situasi rentan.
Laporan lapangan menggambarkan situasi yang mengerikan di ibu kota. Di beberapa lingkungan perumahan di Teheran Timur, tim penyelamat masih terus menggali reruntuhan gedung apartemen yang hancur total. Korban jiwa dilaporkan terus bertambah, dengan angka resmi dari otoritas Iran menyebutkan lebih dari 1.300 warga sipil tewas dan 17.000 lainnya luka-luka hingga hari ke-13 peperangan.
Salah satu insiden yang memicu kecaman internasional adalah serangan terhadap sekolah dasar Minab, yang menewaskan lebih dari 160 siswi. UNICEF menyebut situasi kemanusiaan di Iran saat ini berada pada level “katastropik,” terutama bagi anak-anak yang kehilangan akses terhadap pendidikan dan perawatan kesehatan.
Di tengah tekanan internasional yang mendesak de-eskalasi, militer AS dan Israel dilaporkan tetap melanjutkan operasi mereka dengan target yang diklaim sebagai infrastruktur militer, namun dampak kerusakannya justru meluas ke wilayah padat penduduk. PBB kini terus berupaya menyesuaikan operasi bantuan untuk menjangkau jutaan warga yang terlunta-lunta di tempat penampungan darurat dengan sanitasi yang memburuk.
