Internasional, BnR News. — Eskalasi militer antara aliansi Amerika Serikat-Israel dan Iran memasuki fase kritis pada Jumat (13/3/2026). Di tengah gelombang serangan drone dan rudal yang menghantam wilayah Teluk, Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa operasi militer berjalan “sangat baik,” meskipun tanda-tanda strategi penyelesaian konflik (exit strategy) masih belum terlihat jelas.
Dalam pernyataan terbaru, Presiden Trump memberikan penilaian positif terhadap kampanye militer yang disebut sebagai upaya melumpuhkan kemampuan nuklir dan militer Iran. Trump menyebut intervensi ini sebagai “ekskursi jangka pendek” yang diperlukan untuk menghapus ancaman regional. Namun, klaim sukses ini berbanding terbalik dengan kenyataan di lapangan.
“Kami melakukan sedikit ekskursi karena kami merasa harus melakukan itu untuk menyingkirkan beberapa kejahatan, dan saya pikir Anda akan melihat itu akan menjadi ekskursi jangka pendek,” kata Trump pada konferensi Partai Republik di Florida, seperti dikutip dari Anadolu, Selasa 10 Maret 2026.
Sepanjang 48 jam terakhir, kawasan Teluk menyaksikan gelombang serangan balasan Iran yang menargetkan aset-aset strategis. Di Irak, terminal minyak di pelabuhan al-Faw dan Basra terpaksa menghentikan operasional setelah dua tanker minyak—Safesea Vishnu yang berbendera Kepulauan Marshall dan Zefyros yang berbendera Malta—dihantam oleh kapal cepat bermuatan bahan peledak. Serangan ini memicu kebakaran hebat dan memaksa evakuasi puluhan awak kapal.
Menanggapi serangan udara intensif di Teheran, Presiden Iran Masoud Pezeshkian menetapkan tiga syarat tegas bagi AS dan Israel untuk mengakhiri permusuhan, yakni penghentian segera seluruh serangan udara terhadap infrastruktur sipil dan militer Iran, juga penarikan total pasukan tambahan AS yang dikerahkan ke kawasan Teluk sejak konflik dimulai. Serta pencabutan blokade terhadap jalur perdagangan internasional Iran.
Pihak Teheran memperingatkan bahwa selama agresi berlanjut, mereka tidak akan ragu untuk terus menutup Selat Hormuz—jalur vital bagi seperlima pasokan minyak dunia. Analis energi memperingatkan bahwa jika kebuntuan ini bertahan, harga minyak mentah global bisa meroket hingga $200 per barel.
Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Ali Larijani.
“Jika mereka melakukan itu, seluruh wilayah akan gelap gulita dalam waktu kurang dari setengah jam dan kegelapan memberikan banyak kesempatan untuk memburu prajurit AS yang berlari mencari keselamatan,” kata Larijani di X pada hari Kamis.
Diskusi di forum Inside Story Al Jazeera menyoroti kekhawatiran global mengenai ketiadaan “exit strategy” dari pemerintahan Trump. Meskipun Trump menjanjikan kemenangan cepat, para ahli mempertanyakan apakah tujuan akhirnya adalah perubahan rezim atau sekadar degradasi militer.
Sikap optimis Washington juga mulai mendapat tekanan dari negara-negara Teluk (GCC). Meskipun beberapa sistem pertahanan udara regional berhasil mencegat rudal Iran, negara-negara tetangga mulai merasa terjepit dalam baku tembak yang mengancam stabilitas ekonomi mereka sendiri. Qatar, misalnya, secara tegas menolak upaya pihak mana pun yang ingin merusak hubungan diplomatiknya demi kepentingan perang.
Perang ini telah menimbulkan korban jiwa yang signifikan. Serangan udara di Teheran dilaporkan menghantam sebuah sekolah dasar, menewaskan lebih dari 160 anak-anak, yang memicu kecaman internasional atas jatuhnya korban sipil. Di sisi lain, Departemen Energi AS berencana melepas 172 juta barel cadangan minyak strategis pekan depan untuk menahan inflasi global yang mulai tak terkendali.
Saat ini, dunia menanti apakah diplomasi melalui mediasi Rusia dan Pakistan dapat melunakkan posisi kedua belah pihak, ataukah wilayah tersebut akan terjerumus ke dalam perang atrisi yang berkepanjangan.
![Asap mengepul saat serangan Israel berlanjut di Beirut, Lebanon pada hari Kamis [Adri Salido/Getty Images] Asap mengepul saat serangan Israel berlanjut di Beirut, Lebanon pada hari Kamis [Adri Salido/Getty Images]](https://bnrnews.id/wp-content/uploads/2026/03/getty_69b340b382-1773355187.webp)