Oleh: Widodo Brontowiyono
Guru Besar Teknik Lingkungan UII
Banjir besar yang melanda Aceh, Sumatera Utara (Sumut), dan Sumatera Barat (Sumbar) pada akhir November 2025 masih menyisakan duka. Air yang datang bersama Siklon Tropis Senyar membawa lumpur, kayu, batu, dan cerita kehilangan yang tak terhitung jumlahnya. Namun di balik derasnya air yang menghanyutkan rumah dan jalan, ada pertanyaan penting yang sebenarnya tengah mengetuk pintu pikiran kita: mengapa bencana ini bisa sedahsyat itu?
Dalam ilmu kebencanaan, ada satu rumus yang sering digunakan untuk membaca risiko:
R = H × V / C atau Risiko = Hazard × Kerentanan/ Kapasitas. Rumus ini sederhana, tetapi sangat membuka mata. Hazard (H) seperti hujan ekstrem memang tak bisa kita kendalikan. Namun dua unsur lainnya – kerentanan (V) dan kapasitas (C) – sepenuhnya berada dalam tangan kita sebagai manusia.
H: Hazard Memang Besar, Tapi Bukan Satu-satunya Pelaku. Tidak ada yang memungkiri bahwa hujan akibat Siklon Senyar memang luar biasa. Fenomena seperti ini jarang terbentuk di Selat Malaka. Tetapi dalam teori hidrologi klasik, hazard hanya pemicu; dampak akhirnya sangat ditentukan oleh kondisi lahan dan kemampuan manusia menyiapkan sistem perlindungan. Jika sebuah daerah memiliki tutupan hutan yang sehat, tanah yang mampu menyerap air, dan sungai yang tidak tersedimentasi, hujan ekstrem tidak otomatis berubah menjadi bencana ekstrem.
V: Kerentanan Bertumpuk, Tanpa Kita Sadari. Selama bertahun-tahun, kawasan hulu di Aceh, Sumut, dan Sumbar kehilangan hutan dalam skala yang tidak kecil, sekitar 1,4 juta hektar dalam rentang 2016–2025, sebagian karena izin tambang, perkebunan, dan pembangunan lahan lain. Konversi ini bukan dosa siapa-siapa secara personal; tetapi ia adalah hasil dari kebijakan, kebutuhan ekonomi, dan kesalahan hitung ekologis yang pelan-pelan memperbesar kerentanan.
Hutan yang hilang berarti hilangnya spons alami. Sungai yang dipersempit berarti hilangnya ruang untuk meluap dengan aman. Dan permukiman yang tumbuh di dataran banjir sering kali bukan pilihan bebas masyarakat, tetapi konsekuensi mahalnya tanah aman. Tanpa kita sadari, kita hidup di ruang yang semakin rapuh.
C: Kapasitas Kita Ada, Tapi Belum Merata Kuatnya. BMKG sudah lebih baik dalam memantau cuaca ekstrem. Mungkin BNPB juga sudah cepat menyampaikan peringatan. Tetapi kapasitas bukan hanya soal alarm dan peta risiko. Ia juga mencakup: pemeliharaan drainase, kesiapsiagaan desa, disiplin tata ruang, kualitas infrastruktur, koordinasi antar-instansi. Dan yang sering terlupakan: kapasitas moral dan integritas dalam membuat keputusan publik. Inilah yang sering tidak secara eksplisit dimasukkan dalam rumus risiko, padahal dampaknya luar biasa nyata.
Idenya adalah, bagaimana kalau rumus risiko diperluas: R = H × V / (C × A), dengan (A = Akhlak / integritas kolektif). Bukan akhlak dalam pengertian sempit, tetapi akhlak tata kelola — jujur dalam menjalankan izin, berhati-hati dalam memberi rekomendasi lingkungan, menghindari korupsi proyek banjir, empati pada masyarakat miskin, dan tidak meremehkan fungsi hutan serta sungai.
Tanpa A, kapasitas teknis sering hanya menjadi formalitas. Dengan A, kapasitas berubah menjadi kekuatan nyata. Pandangan ini sangat selaras dengan ajaran Islam. Al-Qur’an mengingatkan: “Telah tampak kerusakan di darat dan laut akibat perbuatan tangan manusia.” (QS Ar-Rum: 41).
Saatnya Memperbesar C × A. Mitigasi bukan sekadar membangun tanggul dan kanal. Mitigasi dimulai dari: memulihkan hutan hulu, menegakkan tata ruang secara adil, memastikan izin lingkungan bukan sekadar formalitas, memperbaiki koordinasi pemerintah daerah, dan yang paling mendasar: menguatkan kesadaran bahwa menjaga bumi adalah bagian dari akhlak. Ketika kapasitas teknis diperkuat bersama kapasitas moral, risiko bencana akan menurun bahkan saat hazard meningkat.
Banjir adalah Cermin, Bukan Hukuman. Banjir Sumatra 2025 tidak datang untuk menuding siapa bersalah. Ia datang sebagai cermin, memperlihatkan titik lemah kita pada kerentanan, tata kelola, dan akhlak ekologis.
Kita tidak bisa mengendalikan hujan, tetapi kita bisa mengendalikan pilihan-pilihan manusia di hulu dan hilir. Kita tidak bisa menolak badai, tetapi kita bisa memperkuat fondasi moral dan ekologis agar badai tidak menjadi bencana. Karena pada akhirnya, bencana bukan hanya tentang air yang meluap, tetapi tentang hikmah yang seharusnya ikut mengalir ke dalam hati kita.

