Sleman, BnR News, — Koordinator Perguruan Tinggi Agama Islam Swasta Wilayah III Daerah Istimewa Yogyakarta (Kopertais DIY) selenggarakan workshop “Pengembangan Kelembagaan serta Redesain Kurikulum Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Swasta (PTKIS)” selama 2 hari, 10-11 Desember 2025. Workshop hari pertama diselenggarakan di Fakultas Ilmu Agama Islam Universitas Islam Indonesia (FIAI UII). Hari kedua di Fakultas Agama Islam Universitas Ahmad Dahlan (FAI UAD). Hadir sebagai narasumber di hari pertama workshop, Dr. Andi Prastowo, M.Pd.I dari UIN Sunan Kalijaga, dan Dr. Nur Kholis, SEI., M.Sh.Ec dari FIAI UII.
Pemaparan sesi kedua, bertema Redesain Kurikulum PTKIS oleh Dr. Nur Kholis, SEI., M.Sh.Ec, selaku Ketua Forum Komunikasi Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Swasta (Forkom PTKIS) wilayah DIY, yang juga Pengurus MUI Sleman, serta Pengurus BASYARNAS DIY.
“UII sudah lama ikut AUN QA. Jadi yang sangat getol menggunakan OBE itu adalah AUN QA, sehingga memang UII karena dari awal banyak mengacu ke AUN QA. Di UII sudah banyak yang tersertifikasi AUN QA. Dampaknya di UII sudah lama berusaha kurikulumnya adalah OBE sudah lama. Sehingga ketika Prodi Ekonomi Islam yang baru 2025, yang tahun 2021 kurikulumnya sudah OBE. Nah, alhamdulillah kalau di UII ini yang akreditasi sudah unggul 65,08%. Kemudian kalau di FIAI, alhamdulillah di bawah bimbingan Pak Dekan sudah 80% unggul. Alhamdulillah, dan ini di antaranya adalah karena menggunakan OBE sistem,” kata Dr Nur Kholis.
UII sudah melakukan digitalisasi banyak hal. Termasuk kurikulum diterapkan termasuk RPS semuanya itu sudah ada di sistem. Dari sisi perkuliahan, presensi sejak pandemi tidak pernah ada presensi kertas lagi. Semua basisnya adalah QR code coding, terus kemudian semuanya tergenerate langsung. Di UII untuk pengembangan semua sistem namanya UII Gateway. Termasuk untuk audit mutu internal, semuanya sudah menggunakan sistem berbasis sistem informas. Semuanya sudah online dan tersinkron. Data semuanya tergenerate dari UII Gateway. Di UII untuk sumber daya IT jumlahnya lebih dari 100 orang
“Sehingga, alhamdulillah dengan sistem informasi tadi itu memudahkan kita untuk melakukan berbagai proses bisnis yang terkait dengan pendidikan. Nah, ini program studi baru di 2022-2026 juga banyak, termasuk di FIAI juga ada program studi baru yang ini sedang berproses untuk diinikan. Nah, indeks Scopus alhamdulillah ini per September, ya. Alhamdulillah terus meningkat juga. Jurnal kita punya jurnal cukup banyak, ada 36 jurnal di UII, ada yang sudah Scopus, ada Sinta 1. Dan ini juga sangat membantu kaitannya dengan proses tadi menggunakan OBE dan terkait dengan kurikulum, termasuk hubungannya dengan tadi visi, stasi, akreditasi, dan seterusnya, mobilitas internasional inbond maupun outbond,” kata Dr Nur Kholis.
Tambahnya, alasan menggunakan OBE, utamanya karena sudah sangat jauh berbeda. Framework untuk 21st century learning ini sangat jauh berbeda, dan apalagi di dunia internasional memang OBE ini menjadi tuntutan. Sehingga kita tidak bisa bertahan dengan cara lama dalam belajar. Menuju OBE ini, di UII juga banyak tantangan, karena perubahan mindset dari dosen itu tidak langsung.
Imbuh Nur Kholis, pedoman yang digunakan Ittaqullāha ḥaqqa tuqātih, tapi saat yang sama fattaqullāha mastaṭa‘tum. Kita berupaya untuk menjalankan OBE itu seoptimal mungkin, tapi ya tetap sesuai dengan kemampuan. Ketika coba berubah mindset, pendekatan OBE itu yang pertama harus outcome-based curriculum-nya dulu. Perubahan mindset ke OBE, yang pertama kan harus kurikulum. Makanya mulai dari harus outcome based curriculum. Kurikulumnya didesain bagaimana berbasis outcome base. Setelah itu OBLT (Outcome Based Learning and Teaching). Kurikulum sudah punya, learning and teaching-nya harus basisnya juga outcome based. Sehingga tidak bisa lagi dosen datang mengajar tanpa bawa apa-apa, itu impossible. Kalau dulu mungkin bisa datang membawa badan, membawa handphone (HP). Sekarang pun dengan TV Smart, materi dari HP bisa juga bisa digunakan, bisa upload di TV, bisa juga dengan cloud. Tapi terap harus disiapkan dengan baik.
“Kemudian yang berikutnya adalah OBAE. Setelah ada OBE, dengan OBAE itu adalah Outcome-Based Assessment and Evaluation. Jadi setelah learning and teaching-nya itu OBE, kemudian assessment evaluation-nya juga harus juga OBE. Nah, baru ada Continuous Improvement. Nah, ini terus dievaluasi. Jadi setiap mid test, jadi satu semester itu dua kali, itu selalu ada monitoring dan evaluasi (monev). Kalau di UII, monev-nya berbasis IT,” kata Dr Nur Kholis.
Selain itu Nur Kholis juga singgung tentang evaluasi per semester berupa kegiatan AMI (Audit Mutu Internal). AMI menjadi rujukan, poin-poin yang menjadi bukti dari kegiatan evaluasi yang dilaksanakan. Sehingga narasi harus ada link buktinya ke dokumen evaluasi. Rencana tindak lanjut nanti juga ada, karena siklus terakhir adalah pembahasan hasil AMI berupa RTM (Rapat Tinjauan Manajemen) dihadiri para pimpinan. Kemudian lembaga penjaminan mutu pasti akan mendampingi masing-masing unit, fakultas atau prodi. Selanjutnya, apa rencana tindak lanjut untuk merespon dari temuan AMI. Rencana tindak lanjut sebagai basis auditor untuk melakukan audit tindak lanjut. (YK 01/VIP)
