Teliti Chat GPT untuk Pembelajaran, Ahmad Zubaidi Dosen FIAI UII Raih Gelar Doktor dari UIN Sunan Kalijaga

oleh
Ahmad Zubaidi raih gelar doktor dari UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta (foto: IPK)
Ahmad Zubaidi raih gelar doktor dari UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta (foto: IPK)

BnR News, YOGYA,– Kemampuan menulis bahasa Arab (maharah al-kitābah) merupakan keterampilan kompleks yang menuntut penguasaan morfologi, sintaksis, dan kosakata secara tepat. Kesulitan ini semakin nyata pada mahasiswa tanpa latar belakang bahasa Arab, sementara tuntutan penguasaan datang dalam waktu singkat. Hal ini menjadi perhatian Ahmad Zubaidi, dosen Prodi Pendidikan Agama Islam, Fakultas Ilmu Agama Islam (FIAI), Universitas Islam Indonesia (UII) untuk menjadikan obyek penelitian disertasi dalam rangka menyelesaikan studi program doktor pada Program Pascarsarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.  Penelitian berjudul Pengembangan Platform Pembelajaran Keterampilan Menulis Bahasa Arab (Mahārah Al-Kitābah) Berbasis Digital Menggunakan Chat GPT, disusun untuk meraih gelar doktor kependidikan Islam.

Selama penyusunan disertasi dibimbing oleh Prof. Dr. Abdul Munip, S.Ag dan kopromotor Prof. Dr. Sembodo Ardi Widodo, M.Ag, hingga sampai pada Ujian Promosi Doktor di Pascarsarjana UIN Sunan Kalijaga, Senin 6 Oktober 2025 dipimpin oleh ketua sidang Prof. Zulkipli Lessy, S.Ag., S.Pd., BSW., M.Ag., MSW., Ph.D dibantu sekretaris Dr. Nina Mariani Noor, MA. Sebagai penguji yakni Prof. Dr. Tulus Musthofa, Lc., M.A. dan Muhammad Yunus,Lc., M.A., Ph.D. serta Ir. Muhammad Taufiq Nuruzzaman, S.T., M.Eng. Ph.D juga Dr Nurain M.Ag.

Menyadari pentingnya keterampilan menulis dalam bahasa Arab, Ahmad Zubaidi berupaya menganalisis berbagai permasalahan yang telah disebutkan sebelumnya. Analisis ini dilakukan dengan mengkaji sejumlah penelitian terdahulu yang berkaitan dengan pembelajaran mahasiswa di Program Studi Pendidikan Agama Islam UII, kemudian dijadikan landasan untuk menemukan celah penelitian yang relevan.

“Berdasarkan pembelajaran sebelumnya, ditemukan bahwa sebagian besar mahasiswa mengalami kesulitan dalam aspek gramatikal penulisan bahasa Arab. Hal ini tercermin dari data bahwa hanya 20% mahasiswa di kelas yang berhasil memperoleh nilai sangat baik dalam mengubah pola kalimat, sementara 80% lainnya masih berada di bawah rata-rata.12 Lebih lanjut, peneliti juga menemukan bahwa proses penyusunan kalimat bahasa Arab melibatkan banyak perubahan, baik pada kata kerja maupun kata benda,” ungkap Ahmad Zubaidi.

Tambahnya, akurasi dan kebenaran konten dalam pembelajaran menulis dapat dijaga melalui proses validasi ganda, di mana hasil umpan balik AI tetap ditinjau ulang oleh pengajar untuk memastikan kesesuaiannya dengan kaidah nahwu-ṣarf dan konteks semantik bahasa Arab. Selain itu, materi dan tugas yang tersedia di e-learning sebaiknya dirancang berdasarkan indikator keterampilan menulis yang terukur pada level CEFR atau IMTA’, sehingga proses evaluasi berlangsung secara objektif.

Dari penelitian ini, Ahmad Zubaidi menemukan bahwa prosedur pengembangan platform keterampilan menulis bahasa Arab berbasis digital menggunakan ChatGPT meliputi beberapa tahapan yang kritis.
”Dengan menerapkan model RdanD dari Borg dan Gall, langkah-langkah pengembangan termasuk analisis kebutuhan, desain produk, dan pengujian platform menunjukkan tingkat efektivitas yang tinggi dalam membantu mahasiswa memahami keterampilan bahasa Arab yang kompleks, khususnya dalam struktur kalimat. Proses ini melibatkan perancangan antar muka yang intuitif, pengembangan aplikasi pendukung seperti ChatGPT untuk terjemahan, Sarf.one untuk analisis morfologi, dan Al-Radif untuk analisis pemilihan kata yang tepat.

Menurutnya, beberapa kelemahan yang terjadi dari hasil evaluasi pembelajaran adalah AI sering kali kesulitan memahami dan menerapkan perubahan bentuk kata sesuai konteks gramatikal bahasa Arab. Hal itu terjadi terutama dalam aspek morfologi, keselarasan kalimat dalam kesesuaian antar subjek dan predikat, konteks semantik dan nuansa makna, ketidaktepatan dalam penerjemahan kultural dan stilistik, dan kesulitan dalam menangani masalah kompleks. Kelemahan tersebut menunjukkan bahwa intervensi manusia masih menjadi dominan dalam pembelajaran bahasa Arab berbasis AI. AI adalah alat pendukung bukan pengganti.

Tambahnya, humanisasi dalam pembelajaran sangat penting untuk dilakukan supaya tercipta kolaborasi. Manusia bertindak sebagai konseptor, validator, dan eksekutor dalam pembelajaran. Sementara mesin membantu mempercepat proses dan memberikan aksesibilitas. Teori ini melahirkan sebuah konsep yang mengintegrasikan tridimensia human-ai collaboration, segitiga relasi antara tujuan–proses–evaluasi, dan spiral pembelajaran generate–evaluate–revise–reflect.

“Dalam hal hasil pembelajaran, implementasi platform ini menghasilkan peningkatan yang berarti pada keterampilan menulis mahasiswa. Berdasarkan uji lapangan, terdapat kenaikan rata-rata skor keterampilan menulis sebesar 25% dari hasil pembelajaran konvensional, yang menunjukkan bahwa platform ini efektif dalam meningkatkan kompetensi mahasiswa dalam menyusun kalimat bahasa Arab yang kompleks. Selain itu, hasil survei menunjukkan bahwa 90% mahasiswa merasa terbantu oleh platform ini dalam memahami gramatikal bahasa Arab, dengan 85% dari mereka mencatat kemudahan yang diperoleh dari fitur-fitur interaktif, seperti latihan menyusun kalimat yang disertai umpan balik otomatis dan penerjemahan kalimat menggunakan ChatGPT yang dilengkapi dengan analisis hasil terjemahan menggunakan Sarf.one dan Al-Radif,” kata Ahmad Zubaidi (YK 01/VIP)